Tuesday, October 10, 2017

Empat Tahun Bekerja Sudah Punya Apa?

apa yang dihasilkan dari bekerja

Ini tulisan pertama saya, agak deg-degan. Sebenarnya saya memberanikan diri untuk menulisnya. Bisa dilihat dari judulnya saja sudah menantang...

...apalagi saya sebagai penulisnya....memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan curhatan pertama ini.

*tarik nafas*

Saya tulis ini di bulan Oktober 2017 genap sudah 4 tahun bekerja, tepat pula saya menginjak usia ke-24 tahun.

*Selamat hari lahir* 

Saya bekerja di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada salah satu kantor pelayanan di Sumatera Utara. Bea Cukai sendiri dibawah naungan Kementerian Keuangan. Untuk bisa masuk ke instansi ini, dulu saya menghabiskan 10 bulan belajar di Kampus STAN untuk meraih gelar Diploma I.

Saya wisuda tahun 2012. Secara resmi bekerja 1 Oktober 2013.

sistem pangkat dan golongan bea cukai

"Empat tahun bekerja sudah punya apa?"
Pertanyaan ini sangat menyudutkan diri. Saya sendiri bercermin pada diri sendiri,- saya sudah punya apa?

Tulisan ini bukan bercerita tentang saya, bukan juga tentang kamu, tetapi ini tentang kita...

...kita yang sudah bekerja selama beberapa tahun... sudah punya apa?

Perbandingan Saya

Saya sudah bisa menebak, pasti nanti akan ada yang membandingkan antara pekerjaan saya dengan orang lain.

Hmm, mereka berdalih,"Kamu enak, gajinya besar, lha kami? Jangan coba banding-bandingkanlah".

Saya membenarkan. Mungkin untuk level pekerja yang sama, gaji saya termasuk besar...Ada gaji pokok, tunjangan, tunjangan khusus, uang makan, uang lembur dan tunjangan lainnya. *abaikan ini*

Jadi benar bahwa gaji saya besar. tapi...
Apakah kamu pernah punya teman satu pekerjaan dan memulai bekerja bersama, tetapi kemudian di tahun ke 4 si teman sudah punya A, B, C, D dan E, sementara kamu tidak punya apa-apa.

Ingat, gaji sama, pekerjaan sama, waktu mulai kerja sama. Lalu kenapa hasilnya bisa berbeda?

Hey kawan, ini bukan soal besarnya gaji, tetapi seberapa pandai kamu. Iya kamu!

Ada juga yang bilang,"Kamu ASN, gaji tetap, pensiunan ada, lha kami? Jangan coba banding-bandingkanlah!

*ASN (aperatur sipil negara) a.k.a PNS* 
Pernah tidak mendapati seorang yang sama-sama ASN, tetapi yang satu banyak hutang, yang satu finansialnya baik-baik saja? Yang satu pensiunannya kesulitan, yang satu pensiunannya merasa nyaman?

Pernah tidak mendapati seorang yang bukan ASN tetapi memiliki kehidupan yang lebih baik daripada ASN padahal berada pada level pekerja yang sama?

Ini bukan soal status ASN, swasta atau freelance, tetapi soal kepandaian mengatur uang hingga masa tua, kawan! Empat tahun bekerja sudah punya apa?

Pertama, saya mau mengajak pembaca untuk menyamakan pandangan bahwa pekerjaan itu bukan soal besaran gaji, status maupun jabatan, tetapi soal kepandaian.

Jika setuju, silahkan baca selanjutnya. Jika tidak maka kamu butuh pelukan.

Perbandingan Margin

Ada satu perbandingan lagi yang tidak boleh dilewatkan, yaitu perbandingan margin.

๐Ÿ‘‰Tingkat keberhasilan yang disesuaikan dengan batasan maksimum.

Saya tahu, kamu tidak paham dengan yang diatas. Saya berikan satu contoh...

Misal, saya memiliki penghasilan 3 juta/bulan, sementara si B bergaji 10 juta/bulan. Kami berada dilevel pekerja yang berbeda, status yang berbeda dan jabatan yang berbeda. Tetapi kami memiliki satu kesamaan, yaitu pandai mengatur penghasilan.

Di tahun ke 4, saya berhasil membeli sepeda motor, sementara si B berhasil membeli mobil.

Apakah saya gagal sementara B berhasil?

Jawabannya kami sama-sama berhasil. Saya mencapai batasan (kemampuan) maksimum untuk membeli sepeda motor dengan tingat keberhasilan maksimal. Begitu juga dengan si B yang membeli mobil tingkat keberhasilan maksimal.

Saya tidak bisa paksakan untuk dapat mobil dengan kemampuan dan jangka waktu seperti itu, karena sudah mencapai batasan maksimum. Walapun yang dihasilkan berbeda, antara sepeda motor yang nilainya lebih kecil dari pada mobil, namun tingkat keberhasilan sama-sama maksimal.

๐Ÿ‘†Inilah yang saya maksud dengan perbandingan margin.

Bagaimana jika tiba-tiba saya dapat hadiah Rp 100juta yang saya gunakan usaha sehingga penghasilan saya menjadi 15 juta/bulan, lalu pada tahun ke-4 saya berhasil membeli sepeda motor dan mobil?

Tetap saja, tingkat keberhasilan maksimal. Bukan dari barang apa yang dihasilkan, tetapi tingkat keberhasilan maksimal saat mencapai batasan maksimum.


Bagaimana mengetahui tingkat keberhasilan dan batasan maksimum? Silahkan bandingkan sendiri dengan orang lain. Maka kita bisa menafsirkan level keberhasilan.

Pada kenyataanya tidak ada nilai pasti untuk tingkat keberhasilan dan batasan maksimum. Kita sendiri yang tahu dengan dasar perbandingan dengan orang lain. Biasanya diungkapkan dengan perkataan seperti ini...

"Ternyata saya lebih berhasil dari fulan." atau "Saya lebih sukses dari fulani."

 Jika tidak setuju, silahkan tinggalkan komplen di kolom komentar.

Fakta Bekerja

Saya pernah melontarkan pertanyaan bodoh, "apa bisa seseorang tidak perlu bekerja?" Berdiam diri dirumah dan kemudian dia merasa tidak nyaman karena menganggur.

Pada kenyataannya setiap orang di dunia wajib bekerja. Sekalipun bagi orang-orang terkaya di dunia, mereka tetap bekerja.

Sebut saja Mark Zuckeberg si pendiri Facebook. Apakah dia punya uang? Ya, banyak sekali bahkan dapat menyokong beberapa generasi setelahnya. Lalu kenapa dia masih bekerja? Dia masih datang ke kantor, menghadiri rapat, dan mengevaluasi perusahaanya.

Jack Ma yang memiliki Ali Baba group, apakah dia bekerja? Ya, dia masih tetap bekerja.

Fakta, sekaya apapun orangnya, dia tetap bekerja.

Minimal dia mengecek kondisi perusahaannya, mengarahkan para pimpinan perusahaan dan kegiatan lain yang bersifat managerial.

Bagaimana dengan ini?
Misalkan, saya memiliki uang 5 milyar, lalu saya mendepositokannya. Dari deposito tersebut saya dapat uang setiap tahun yang dapat memenuhi biaya sehari-hari. Saya tidak punya pekerjaan, hanya deposito itu saja. Apakah saya termasuk bekerja?

Jawabnya iya, saya bekerja. Saat akan mendepositokannya, saya 'bekerja' memilih deposito terbaik. Lalu saya 'bekerja' mengajukan deposito ke bank. Saya bekerja beberapa kali untuk mendapatkan penghasilan selamanya.

Mulai paham sekarang? Ada orang yang bekerja setiap hari untuk mendapatkan penghasilan secara mingguan/bulanan. Ada orang yang bekerja satu kali untuk mendapatkan penghasilan selamanya. Satu kesamaan, yaitu tetap bekerja.

Jika ditanya pekerjaannya apa, jawabnya adalah saya seorang investor.

why i go work kenapa saya bekerja

Alasan Bekerja

Ada empat alasan kenapa sekarang kita bekerja. Berdasarkan pengamatan, kedudukan pertama ditempati dengan alasan untuk dapat penghasilan.


Mendapat penghasilan

Umumnya orang-orang berpikir alasan utama kita bekerja adalah untuk mendapat penghasilan.

Benar!

Saya sendiri bekerja karena alasan tersebut. Bayangkan apabila kita bekerja tanpa dibayar. Cihhh, saya tidak rela buang tenaga hingga lelah selama 4 minggu tanpa feedback (gaji) sama sekali, hehe.

Mending berburu ke hutan. Berlelah-lelah, mencari kelinci untuk dimakan.


Mencapai tujuan

Melalui penghasilan yang didapat, kita akan mencapai tujuan yang diinginkan. Misal, tujuan untuk makan, dapat tempat tinggal, beli pakaian, menikah, membangun rumah, membeli mobil dan hal-hal bersifat material lainnya. Semua itu adalah bentuk tujuan.

Ada juga bentuk tujuan sosial dan spiritual, dimana kita ingin membantu orang lain yang membutuhkan.

Agar diakui

Label pengangguran yang melekat pada seseorang itu tidak enak bukan? Sebisa mungkin pasti menghindari dari kata menganggur. Dalam lingkungan masyarakat mengganggur pasti mendapatkan stigma negatif.
Tak bisa dipungkiri, kadang keluarga juga ikut malu karena label ini.

Kalau di Medan, mamak bisa marah, "Kerjalah kau nak, ngapain kau di rumah aja. Ngga ada rupanya yang bisa kau kerjakan diluar sana!"

Maka dari itu tidak jarang kita mendengar kata,"Eh, si fulan itu sudah kerja lho sekarang."

Memenuhi tanggung jawab

Saat ini yang terpikirkan oleh saya, alasan yang ke-empat ini untuk orang-orang kaya yang memiliki perusahaan besar. 

Mereka tetap bekerja, datang ke kantor, memenuhi rapat, dan mengerjakan kegiatan yang bersifat managerial semata-mata untuk memenuhi tanggung jawab sebagai bos sekaligus pemilik perusahaan.

Jika kamu memiliki alasan lain mengapa kamu berkerja, silahkan tinggalkan komentar dibawah.

Oke, kita kembali ke... 4 tahun kerja sudah punya apa?

Untuk ukuran lama bekerja boleh berapa saja. Boleh kurang dari 4 tahun, ataupun lebih. Saya akan coba membantu menghitung, apa yang sudah kita punya selama bekerja.

Pertama, apakah memiliki tabungan?
Bukan hanya rekening tabungan, tapi juga ada uang didalam rekening tersebut, hehehe.

Jika sudah kerja beberapa tahun, tetapi tidak memiliki tabungan. Wah ini pertanda bahaya. Wajarnya 10-20% porsi gaji harus dialokasikan untuk tabungan. Yahhh, kalau pun tidak bisa, 5% atau lebih rendah dari itu harus tetap ditabung.

Kemudian, frekuensi menabung. Jika tidak pernah maka ini pertanda buruk. Jika pernah, Alhamdulillah. Sebulan sekali ketika gajian? atau frekuensi lainnya?

Apakah rekening tabungan bersatu dengan rekening gaji?
Jika iya, berarti salah. Kita tidak dapat membedakan mana tabungan dan mana gaji. Tau-tau sudah terpakai semua.

Rekening tabungan harus dipisah. Silahkan buat rekening tabungan yang berbeda ya...

Kedua, apakah memiliki utang?
Jika kamu tidak memiliki utang maka pertanda baik, jika iya saya mulai sedikit khawatir.

 
Memiliki utang itu sah-sah saja. Tapi kita lihat dulu tujuannya untuk apa.

Jika utang untuk keperluan membeli rumah, tanah, ruko atau keperluan usaha, maka ini pertanda baik. Karena yang saya sebutkan tadi termasuk investasi.

Namun, jika utang digunakan untuk kredit suatu barang, misal mobil. Ini sebenarnya pertanda tidak baik. Selain kamu mencicil dengan uang yang lebih, harga mobil akan turun di masa depan.

Ketiga, apakah memiliki asuransi?
Asuransi masih cukup awam bagi sebagian masyarakat. Untungnya hadirlah BPJS sebagai asuransi pemerintah yang mampu memberikan pemahaman ke berbagai lapisan masyarakat bahwa asuransi itu sangat penting.

Lihat saja banyak masyarakat terbantu dengan kehadiran BPJS ini. Semua biaya berobat ditanggung BPJS, padahal kita hanya membayar bulanan yang nilainya kecil.

Apakah kamu yakin asuransi itu penting?

Saya sendiri mengambil asuransi kesehatan, jiwa dan investasi dalam 1 produk asuransi. Saya sadar bahwa tidak semua penyakit mampu di back up oleh BPJS. Dari itu saya memilih asuransi kesehatan.

Sementara itu, kenapa ada jiwa-nya. Hmmm.... agar bisa diwariskan saja ke ahli waris. Sedangkan bagian investasi, untuk masa depan suatu hari saya butuhkan, bisa saya ambil kembali.

Keempat, apakah memiliki investasi? 
Investasi dapat berupa apa saja yang penting nilainya tumbuh terus-menerus.

Misalkan tanah yang harganya tidak pernah turun.

Rumah,- orang-orang menyebut ini juga investasi, karena jika dijual dimasa depan pasti harganya makin mahal. Tapi Robert T Kiyosaki memasukan rumah dalam kategori beban. Mengapa?

Rumah yang dimaksud beban itu adalah rumah yang ditempati yang mana kita mengeluarkan biaya-biaya untuk merawatnya dan tujuan awal membeli rumah tersebut memang untuk ditinggali bukan dijual. Sedangkan rumah yang tidak ditempati baru bisa dikatakan sebagai investasi. Dalam hal apapun rumah yang tidak ditempati dapat dijual kapan saja.

Bagi saya dan orang-orang yang gajinya tidak seberapa, tentu untuk membeli tanah atau rumah sangat berat.

Tenang saja, tersedia juga investasi yang lebih ringan dan mudah. Kita bisa memilih deposito, reksadana, saham, obligasi, tabungan emas, hingga produk asuransi investasi.

Dengan biaya yang ringan kita menyerahkan ke lembaga tertentu, lalu mereka mengolahnya hingga nilainya tumbuh terus dan terus.

*** 
Inilah ke empat indikator yang saya gunakan untuk mengetahui kita sudah punya apa setelah beberapa tahun bekerja.

Mengapa kendaraan dan gadget tidak saya jadikan sebagai indikator?  Padahal nilainya cukup besar saat dibeli bukan? Malah sekarang di SPT tahunan kendaraan dan gadget dimasukkan ke kolom harta. hehehe.

Saya punya laptop harga Rp 7 juta saat pertama kali membelinya. 2 tahun berlalu, saya hanya mampu menjualnya di harga Rp 2,3 juta saja. Nilai gadget ini hilang hingga 60% dalam 2 tahun.

Begitu juga dengan kendaraan, nilainya pasti hilang dalam beberapa tahun ke depan. Apalagi bagi yang beli kendaraan dengan kredit. Bukan harta yang bertambah, tetapi utang yang bertambah.

Maka dari itu kendaraan dan gadget bukan indikator "sudah punya apa".
Kira-kira bagaimana dengan kamu? Sudahkan memiliki sesuatu. Jika sudah maka ini adalah langkah yang baik. Jika belum, maka lakukan dengan segera dimulai dari tabungan.

Bagaimana dengan saya? 
Saya memiliki tabungan

Saya memiliki utang untuk usaha 

Saya memiliki asuransi

Saya memiliki investasi berupa tanah. Saya sudah pernah dan masih tabungan emas, saham dan asuransi investasi. Dilain kesempatan saya akan berbagi produk-produk ini.

Ada satu hal penting yang saya tidak punya....
...yaitu, istri ๐Ÿ˜…. InsyaAllah disegerakan dan ketemu jodoh yang menerima saya dan keluarga saya apa adanya. Amiiin.
*jadi curhat soal jodoh*

Jika level pekerja kamu lebih tinggi dari saya, tentu kamu memiliki lebih banyak dari apa yang saya miliki.

Sebaliknya...

Jika level pekerja kamu lebih rendah, tentu kamu memiliki lebih sedikit dari apa yang saya miliki dan tidak menutup kemungkinan sama atau malah lebih banyak dari saya.

Ingat kembali soal perbandingan margin. Kita semua sama-sama berhasil meskipun nilai yang dihasilkan berbeda.


***
Sekian curhat saya pada postingan pertama ini. Jika suka dan bermanfaat silahkan dishare agar orang lain juga mengetahui hal ini.

Jangan lupa tinggalkan komentar, lalu kita berdiskusi ria atau kontak saya via sosmed. Salam pekerja!


Image source :
1. https://www.webershandwick.com (gambar header : kerja)
2. http://archleague.org (why i go to work?)

14 comments:

  1. Nice post gan, saya punya semuanya kecuali hutang, karena saya menikah tanpa hutang jadi hidup saya tenang. Karena baru lahiran, saya enggak kerja dulu tapi berkarya dari rumah, rezeki tetap ada karena saya berdoa agar dikejar duit halal dan berkah :)

    ReplyDelete
  2. wuih mantap kang ini berasa digampar bolak balik nyungsep kerja uda pny apa?hahaha
    smg segera ketemu jodohnya ya enak ni dh pny calon visoner uda siapin everything ๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  3. Kebahagiaan terletak di dalam hati.. eaa...

    Semoga segera di pertemukan jodohnya gan..

    ReplyDelete
  4. saya kerja empat tahun juga dan memang tidak beli motor, tapi mulai punya tabungan investasi dan bisa membeli laptop sendiri.... alhmadulillah yang penting berkah ya :D

    ReplyDelete
  5. saya sudah 8 tahun kerja dan kalau ditanya sudah punya apa, saya menjawab sambil tersenyum "Alhamdulillah semua yang saya butuhkan sudah terpenuhi"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lama nganggur, bersyukur bisa main internet :D

      Delete
  6. Saya punya cita2 nanti anak saya bisa masuk STAN dan jadi pegawai pajak. Soale kan ikatan dinas, masa depan cerah gitu. Hihi... Kalau diingat2 empat tahun kerja saya udah bisa punya motor sendiri, tapi belum bisa beli rumah

    ReplyDelete
  7. Empat tahun kerja udah jalan-jalan ke mana aja? Hehehe, thanks for sharing, mas.

    ReplyDelete
  8. Sebenarnya kesukesesan itu hanya diri sendiri yang tahu. Sedangkan orang lain hanya melihat dari luarnya, apa yang kita pakai dan apa yang kita beli.
    Semakin besar penghasilan, gaya dan kebutuhan hidup akan berbeda.
    Intinya, bersyukur sajalah, jangan terjebak dengan gaya hidup yang terlalu wah.

    ReplyDelete
  9. Wahhh ini postingan pertama di blog? Keren amat.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah kalau diingat-ingat, diluar ekspektasi. Banyak hal luar biasa yg diraih selama ini.

    ReplyDelete
  11. aku bekerja dua tahun aja. heheeh. abis itu nikah :p
    suskes terus ya di bea cukai. tahan godaan :D

    ReplyDelete
  12. belum dapat apa2 tapi sudah dapet niatan buka ushaa sendiri
    gpp, hehe
    semoga cepet nikah mas. hehe

    ReplyDelete

Komentar spam tidak akan di-approve.