Mahalnya Biaya Hidup Di Jakarta Membuat Saya Tidak Ingin Lama Di Kota Ini

Artikel terkait : Mahalnya Biaya Hidup Di Jakarta Membuat Saya Tidak Ingin Lama Di Kota Ini

Mulai Desember tahun 2017 lalu saya mulai menginjakkan kaki di Jakarta dan tinggal disana karena pindah tugas. Saya menetap selama 7 bulan di Jakarta hingga Juni 2018.

Tulisan ini saya bagikan sebagai “kenangan” karena pernah tinggal di Jakarta dan informasi tambahan bagi anda yang ingin tinggal di Jakarta.

Saya akui di Jakarta serba mahal. Biaya hidup jauh berbeda dari tempat tinggal saya sebelumnya di Medan. Melihat kondisi ini maka wajar banyak pekerja asal Depok/Tangerang /Bogor rela pulang-pergi ke Jakarta untuk menghemat pengeluaran.

Makan di warteg dengan menu seadanya dengan kisaran harga mulai dari Rp 12.000. Biaya ngekos dengan kamar isi kasur, lemari dan kursi serta kamar mandi diluar dihargai mulai dari Rp 600.000-an. Kos-kosan harga segini masih bisa ditemui di kawasan Jakarta Timur.



Bagi anak zaman now yang kekinian social cost akan cukup menguras kantong. Jadi jangan coba-coba “hedon” jika penghasilan pas-pas-an. Untuk tiket bioskop saya kira sama dengan kota lainnya sekitar Rp 50.000. Sementara jika ingin makan enak di kafe, restoran, atau mall tersedia menu mulai dari Rp 75.000.

Yang saya suka dari Jakarta adalah transportasinya, meskipun sebenarnya macet tapi banyaknya pilihan yang murah-meriah. Dengan Rp 3.500 anda bisa memilih busway dan KRL untuk mencapai seluruh kota Jakarta dan sekitarnya seperti Depok, Tangerang dan Bogor.

Opsi lainnya adalah kendaraan berbasis online seperti Go Jek dan Grab. Nah kalau transportasi yang satu ini tergantung lokasi yang ditempuh dan jam pemesanan. Semakin jauh dan jam sibuk tarifnya akan semakin mahal.

Saya akan membahas elemen penting biaya hidup selama di Jakarta yang didalamnya terdiri dari :
  1. Tempat tinggal
  2. Makan
  3. Transportasi

Tempat Tinggal

Saya ngekos di Jakarta Timur, tepatnya Jalan Pisangan Lama III. Disekitaran jalan ini tersedia berbagai macam kos-kosan. Mulai dari Rp 600.000 s.d 1.800.000. Tergantung fasilitas dan luas kamar.

Saya sendiri memilih kamar Rp 600.000-an. Isinya ada kasur springbed, meja dan kursi, 1 lemari, kamar mandi diluar dengan ukuran kamar 2,5 m x 2 m serta listrik dan air.

Dengan kondisi Jakarta yang panas, saya membeli exaust fan. Saya tidak membeli kipas angin, karena posisi kamar saya di lantai 1 yang aman dari cahaya matahari. Selain itu saya beli dispenser, yah butuh air panas untuk membuat susu atau menyeduh mie instan.

Untuk kamar yang ber AC dan kamar mandi di dalam harganya mulai dari Rp 1.200.000. Harga kamar ber AC semakin mahal seiring dengan luas kamar, kenyamanan kasur, kursi dan meja. Hanya saja anda harus pandai memilih, biaya ini ada yang sudah termasuk air dan listrik, ada yang membayar listrik sendiri.

Membayar listrik sendiri, karena setiap kamar memiliki meteran listrik sendiri.

Melihat kondisi Jalan Pisangan Lama 3 daerah saya ngekos, sebenarnya lokasi ini cukup strategis bagi pemilik kos karena tepat berada di belakang Kantor Pusat Bea Cukai.

Banyak perantauan yang bekerja di kantor ini (termasuk saya sendiri), akibatnya di kos-kosan pada area ini kebanyakan dihuni oleh pegawai bea cukai.

Tahu sendirilah, biasanya pada lokasi strategis seperti area kantoran atau kampus biaya tempat tinggal akan semakin mahal. Dimanfaatkan sebesar mungkin oleh pemilik kosan.

Namun, tidak untuk di daerah ini. Harga tempat tinggal masih terjangkau.Opsi lainnya anda dapat menyewa rumah jika tinggal bersama teman-teman atau menyewa apartemen bagi yang ingin tinggal dengan faslitas yang nyaman.

Infrormasi dari teman saya yang sudah berkeluarga (dengan satu anak balita) tinggal di rumah dengan satu kamar dihargai 12 juta/tahun. Berbeda lagi dengan yang 3 atau 4 kamar, sekitar 40 juta-an.

Berikutnya apartemen, saya dapatkan informasi dari teman saya yang tinggal di kawasan Kasablanka. Sebuah apartemen kecil dengan jumlah 2 kamar dihargai 5 juta/bulan.

Jika saya ambil "garis tengah", maka biaya tempat tinggal di Jakarta adalah Rp 800.000/bulan.

Makan

Untuk warung makan, yang paling banyak saya temui adalah warteg. Di area kos-kosan saya ada sekitar 5 warteg yang berdekatan dan yang paling cocok dengan lidah saya hanya 1 warteg saja.

Sementara itu warteg di kantin kantor saya memiliki rasa yang lebih baik, meskipun harganya agak mahal. Untuk makan siang paling banyak saya merogeh kocek hingga Rp 30.000.

Saya lebih sering memesan makanan di Rumah Makan Padang, rasanya yang pedas cocok dengan selera saya. Makan dengan ikan mulai dari Rp 13.000. Tapi tetap saja di Medan lebih murah, Rp 10.000 bisa dapatkan nasi + ikan 😂.

Saya juga pernah katering berbasis aplikasi di Jakarta. Hanya untuk makan siang saja dengan menu beragam seharga Rp 22.500,-. Jika anda ingin mencoba silahkan browsing tentang Kulina.

Selain warteg yang terjangkau, ada siomay, seblak dan bakso yang bisa didapatkan dengan harga Rp 10.000.

Untuk makanan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima tidak jauh berbeda harganya sekitar belasan ribu Rupiah juga. Menunya pecel lele, ayam penyet, bebek, mie instan, soto, sate padang, nasi goreng dan lain-lain.

Saat saya bosan dengan makanan yang itu-itu saja, maka pilihan saya pun jatuh ke delivery. Kebanyakan pesanan saya junkfood. Yah, harga junkfood sama di daerah mana saja,- puluhan ribu.

Lain halnya jika sudah makan di mall atau restoran, maka harus merogeh kantong lebih dalam.

Jika ingin lebih hemat, silahkan masak dan menanak nasi sendiri. Pasalnya, beli nasi di warung saja sudah dihargai Rp 4.000.

Kesimpulan saya soal makan di Jakarta ini, masih bisa diperoleh dengan harga belasan ribu Rupiah saja kok.

Jika saya ambil garis tengah untuk sekali makan di Jakarta adalah Rp 17.000.

Transportasi

Seperti yang saya utarakan diatas bahwa yang saya sukai dari Jakarta adalah transportasinya yang murah. Dengan Rp 3.500 saya dapat mencapai seluruh Jakarta bahkan kota disekitarnya seperti Depok, Tanggerang, dan Bogor.

Adalah busway dan KRL yang bisa dijadikan pilihan. Dengan kondisi Jakarta yang macet dan panas, busway dan KRL adalah pilihan yang tepat karena memiliki jalur sendiri dan ber AC.

Namun, pada saat jam sibuk seperti berangkat dan pulang kerja, transportasi manapun tidak akan nyaman. Kondisi penumpang yang berjubel dan berebut. Bahkan stasiun KRL sudah disesaki orang sejak pagi buta.

Pilihan lainnya tersedia juga angkot dan bemo yang saya sendiri belum pernah mencoba transportasi ini sekalipun saat di Jakarta.

Opsi lain yang saya jadikan pilihan adalah transportasi daring,- pesan online sesuai dengan lokasi jemput dan tujuan.

Biaya daring ini tergantung jam pemesanan dan jarak tempuh. Jika memesan di jam sibuk pasti lebih mahal.

Saya ambil biaya transportasi untuk pergi-kantor-pulang : Rp 20.000

Biaya Hidup Di Jakarta 2018 Selama Sebulan

Jika dihitung dari 3 kebutuhan mendasar diatas dalam sebulan, maka :
  • Tempat tinggal : Rp 780.000
  • Makan : Rp 1.620.000
  • Transportasi : Rp 480.000 (24 hari untuk 1 bulan)
Jadi untuk bisa hidup saja di Jakarta butuh dana Rp 2.880.000.

Perhitungan ini belum termasuk social cost seperti jalan-jalan, nonton bioskop, nongkrong, uang pulsa, buku dan lain-lain.

Belum lagi dana tak terduga lainnya seperti sakit, kondangan, dan sumbangan.

Jika anda termasuk sandwish generation yang mengharuskan membiayai orangtua di kampung halaman maka butuh uang yang lebih banyak.

*sandwish generation adalah mereka yang membiayai hidup sendiri dan orangtua. (Jika hanya sekedar "ngirim" orangtua saja tidak termasuk jenis ini ya).

Membandingkan Jakarta Dengan Kota Lain

Jika saya membandingkan Jakarta dengan kota Medan (tempat tinggal sebelumnya), maka kelihatan sekali mahalnya ibukota negara tercinta ini.

Medan
Di Medan anda dapat menemukan kos-kosan yang harganya hanya Rp 250.000 dengan ukuran 2,5 m x 3,5 m.

Untuk makanan sangat murah sekali. Dengan Rp 6.000 anda dapat sarapan dengan kenyang. Bisa memilih lontong Medan, mie balap, dan nasi gurih.

Sementara itu makanan berat ada nasi Padang bisa diperoleh mulai dari Rp 8.000 dengan lauk telor dadar, sayur, dan kuah.

Mie Goreng, nasi goreng, sate padang, Mie Aceh, bisa dibeli dengan harga Rp 10.000.

Transportasi umum yang paling diminati adalah angkot dan becak motor. Ongkos angkot mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 7.000. Tergantung jauh dekatnya tujuan.

Untuk becak motor juga begitu, tergantung jarak tempuh dan kemampuan menawar harga anda.


***

Saya kira demikian sharing tentang biaya hidup di Jakarta tahun 2018 dan membandingkan dengan kota Medan. Apakah anda berencana tinggal di Jakarta? Berapa uang yang harus anda keluarkan perbulan untuk tinggal di kota ini?

Atau...
Anda dapat berbagi cerita soal biaya hidup di kota yang saat ini anda tinggali.

Silahkan tinggalkan di kolom komentar karena sharing is caring. 👌👦

Sumber gambar :
Kota Jakarta : https://www.kaskus.co.id

Artikel Catatan Finansial PNS Muda Lainnya :

52 comments:

  1. jakarta adalah kota yang paling tidak ingin kukunjungi klo gak kepepet banget hehe
    apalagi penyangganya juga seperti bekasi ampun deh...

    ReplyDelete
  2. Tapi mas, UMR Jakarta kan juga gede. Apa nggak sebanding?
    Setelah Juni 2018, kamu pindah kemana kalo gitu? Biaya hidupnya lebih mendingan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. UMR gede jika dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan dasar yang ada pasti mahal

      Delete
  3. Saya pun tak ingin tinggal di Jakarta, pernah ngekos di Semarang aja udah lumayan mahal apalagi sampai di Jakarta mas..

    ReplyDelete
  4. Ga kuat sama macetnya kalo saya, bikin kesabaran gampang habis bis bis

    ReplyDelete
  5. jadi mulai terbayang tinggal d jakarta jika gaji bulanan hanya sekitar 3 juta. survival kali lah itu berarti yaa

    ReplyDelete
  6. Aku orang medan, yg merantau ke jakarta :p. Tinggal di sini dr pertengahan 2006. Aku ga terlalu lama nganggur, lgs dpt kerja yg gajinya sbnrnya jauh di atas rata2 thn 2006. Waktu itu aku nge kos di daerah Setiabudi, Sudirman :D. Aku akuin , jakarta memang mahal. Tp sebenernya, kalo kita tipe yg ga terlalu boros dan masih mau nabung, pasti kuat kok di jakarta :D. Aku aja termasuk boros sebenernya, dulu itu selalu nyediain budget utk hura hura sebulan 4 kali. Tp ternyata kalo pinter manage uangnya, masih ada juga yg kesisa utk ditabung. Intinya, jgn over dari budget yg dibuat :D. Dan supaya ga stress di jkt, wajib masukintambahin budget bersenang senang, minimal banget sebulan sekali lah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk sekedar survive masih bisa mbak di jakarta, apalagi gaji mbak di atas rata-rata. Pasti dong bisa bertahan disana, bahkan bisa investasi

      Delete
  7. Saya sudah 2,5 tahun tinggal di Jakarta dan memang saya akui biaya hidup di sini cukup mahal dibanding di Sumatera sana. Saya di sini kuliah. Belum punya kerjaan, jadi biaya hidupnya memang masih ditanggung oleh orangtua. Dan benar, harga kos-kosan dekat kampus memang mahal harganya. Tapi sebenarnya yang bikin mahal di Jakarta itu, gengsinya. Iya, gengsinya. Jadi sebelum saya kuliah dulu kan saya sempat melihat-lihat beberapa kos yang ada di deket kampus. Harga perbulannya beragam. Paling rendah 750rb/bulan (udah termasuk exhaust fan, meja, kursi, tempat tidur), sampai 3jt/bulan dengan fasilitas yang sangat lengkap (internet, kamar mandi dalam, AC, listrik tanpa batas, kamar luas). Dan yah, karena gengsi, saya pun memilih kos-kosan dengan harga 1,25jt/bln (lengkap tapi engga ada kamar mandi dalam).

    Kedua, biaya makan. Awal-awal kuliah saya selalu makan diluar. Dalam sebulan, 1,5jt habis untuk makan doang. Belum termasuk jajan ini itu dan segala macamnya. Lalu bulan-bulan berikutnya saya coba berhemat. Masak nasi sendiri dan lauknya beli di warteg. Alhasil, saya bisa hemat 50% dari biaya makan bulan pertama saya kuliah. Lauk yg di makan? Oh, ada ayam opor/ikan (tergantung lagi pengen apa), dua jenis sayur, dua jenis makanan tambahan seperti kentang balado dan tempe orek/tahu goreng. Itu bisa buat dua kali makan. Kalau sarapan pagi biasanya saya membeli bubur atau makan roti. Dan 50% dari penghematan uang makan yang saya lakukan itu, biasanya saya pakai untuk membeli hal-hal yang saya butuhkan. Seperti buku, ongkos transportasi (kalau lagi jalan-jalan), nonton bioskop, ngopi dan makan di kafe, isi paket data, makan di luar kalau lagi bosan makan warteg, dan semacamnya.

    Jadi kembali lagi, yang bikin mahal itu sebenarnya gengsi. Atau kitanya yang enggak bisa mengatur keuangan dengan baik. Apakah saya jera tinggal di Jakarta? Kalau untuk sekarang sih belum karena masih ditanggung sama orangtua. Mungkin suatu saat bisa berubah kalau saya sudah punya kerjaan dan mampu membiayai hidup saya sendiri (lepas dari tanggung jawab orangtua). :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu kos-kosan 1,25 juta udah lengkap, kamar mandi masih di luar XD...

      nah, kalau makan memang masih diakali, kalau masak sendiri jauh lebih hemat.

      Saya juga sering masak nasi sendiri, lauknya beli di warteg, memang lebih hemat dibandingkan makan di luar

      Delete
    2. Iya. :( Bete banget pas tau 1,25juta tapi kamar mandi masih di luar. Kalau di Sumatera, mungkin udah dapet kosan mewah kali ya. Hahaha. Tapi menurut saya hal yang wajar kalau 1,25juta kamar mandinya masih di luar, sebab di sini dekat sama kampus swasta yang mana biayanya juga mahal. Jadi para pemilik kos di sini kalau ngasih harga memang rata-rata tinggi semua. Enggak heran sih. Hahaha.

      Iya. Lebih murah kalau masak sendiri atau beli lauk di warteg. Tapi karena lidah saya lidah sumatera, dan sayang orang minang, jadi lidah saya enggak kuat kalau disuruh makan makanan warteg terus-menerus. Jadi kalau udah jenuh beli lauk di warteg, kadang saya beli lauk di rumah makan padang. Atau kalau lagi enggak selera, ya, makan di luar semisal kayak soto, bakmi, gitu deh :D

      Delete
  8. Jakarta memang cukup 'kejam' bagi yang berpenghasilan pas-pasan. Ngga bakal bisa hidup layak. Tinggal harus melipir ke pinggiran kota atau pilih ngekost seadanya. Aku jadi inget cerita temenku yang sampai rela makan irit habis-habisan demi bisa kongkow sekali seminggu di kafe.

    ReplyDelete
  9. Belum pernah si mas aku tinggal di jakarta. Yang pernah, di Bali 3 bulan..Klaten 2 bln..dan sisanya di Jogja.

    Jogja..murah living costnya.. cuma mungkin transportnya ga seberagam jakarta. Lebih nyaman pake kendaraan pribadi klo di sini

    ReplyDelete
  10. Waaahh keren nih, jadi ada bayangan kalau hidup di Jekardah butuh biaya berapa.
    Btw anyway..
    Di Surabaya juga sebenarnya sama, kos-kosan dengan ukuran segitu ya sudah diatas 500ribuan, bisa 600-700.
    Yang pakai AC di atas 1 juta.
    Makanpun kalau gak pintar cari warteg yang murah, dapetnya mahal juga hehehe.

    Padahal sumber penghasilan di Surabaya biasa saja, beda ama Jakarta yang kesempatan lebih banyak, meskipun saingan juga banyak hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya sulit menemukan warteg murah, rasa dan keualitasnya baik mbak. itu yang bikin sedih

      Delete
  11. Dulu di tanggerang masih bisa dapet harga tempat tinggal Rp. 350.000 (2016), kamar mandi didalem, cuman emang enggak ada kasur... hahah, tapi jujur saja sih kalau mau dibandingkan, meskipun penghasilan di kampung kecil daripada dikota, saya merasa jauh lebih bahagia tinggal di desa, terutama dari segi tempat tinggal, tapi memang agak menderita kalau soal penghasilan jhahah, hanya sebatas cukup saja

    Berdasarkan data diatas ternyata yang paling banyak menyedot biaya itu adalah dari Makan : Rp 1.620.000, mungkin sampean agak royal kali mas soal makan.. jhahah, kalau masak sendiri maka biaya tersebut mungkin akan sedikit terpangkas habis,lah saya sendiri pernah kok tinggal di kota, dengan gajih yg cuman 2,7, sampai 3 jeti itupun masih bisa menyisihkan untuk orang tua di kampung sekitar setengahnya dari gaji, berarti perbulannya untuk semua urusan (makan, tmpt tgl) saya menghabiskan 1,5 jeti, yah cuman badan agak kurus dikit serta jarang hiburan (jalan, nonton bioskop atau pergi ke mall)jhahah :D transportasi tidak termasuk karena kadang jalan kaki atau naek sepeda

    atau mungkin ada opsi yang lebih baik lagi dari itu, yaitu punya istri, biar ada yang masakin... banyak loh mas yang tinggal di jabodetabek, dengan pengahsila sekitar 2,7 sampai 3 jeti yang berkeluarga namun masih bisa nyicil buat beli perumahan, mau diakui atau enggak, mungkin kalau berkeluarga akan jadi lebih sedikit hemat..

    Jadi soal mahal dan enggaknya hidup di jakarta itu relatif, tidak bisa hanya dibandingkan dari harga makan diwarung tegal yang cuman beda 3 rebu perak aja.. setuju ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh hebatt dengan gaji yang hanya 2,7 juta bisa menghemat setengahnya. Itu luar biasa.

      Iya, saya royal di makanan, soalnya susah makan. Kalau ga enak atau rasanya "aneh" sama sekali ga bisa di makan. Apalagi makanan warteg yang 10 ribuan, susah banget nelannya. Kualitasnya ga bagus.

      makanya saya bela-belain beli makanan yang 20ribuan,

      Delete
  12. Saya dan keluarga kecil saya juga baru pindah mas ke Tangerang Selatan karena suami di pindah tugaskan kerjanya di Jakarta. Baru setahun di sini. Tapi, kami memilih lokasi tempat tinggal di tangsel daripada di jakarta. Di sini aja kami merasa mahal biaya hidup daripada di bandung apalagi di Jakarta ya. Tapi kadang saya suka ke jakarta juga kalau ada event blogger dan bener kata Mas Sabda, ada banyak pilihan kendaraannya

    ReplyDelete
  13. kalau aku malas hdp di kota jakarta dengan kemacetan, kemana2 harus berangakt awal banget agar bisa sampai tujuan

    ReplyDelete
  14. Saya belum pernah tinggal di Jakarta. Tapi menurut saya tergantung juga mas, kan disana gajinya besar makanya biaya hidup juga mahal :)

    ReplyDelete
  15. Setujulah sm agan,, sy 3 tahun d jakarta ngabur ke daerah purwakarta,, lbh serasa hidup sekarang

    ReplyDelete
  16. Jadi terbayang mahalnya biaya hidup di jakarta dibanding kota medan.. Siap2 memikirkan masa depan ni sebelum hidup di jakarta..

    ReplyDelete
  17. Kalau saya pernah tinggal di Jakarta, tapi 14 tahun lalu.
    Setelah sampai di jakarta sejak 2 minggu kemarin, gue memfavoritkan keterangan anda tentang nyaman nya sektor transportasi yang dimiliki Ibu kota. (Hanya 3.500 rupiah saja, udah bisa kemana-mana bro).

    Namun kalau menilik biaya tinggi untuk sektor Sandang, Pangan, Papan. . . ."Gue enggak bisa ngomong deh."

    By the way, tulisan elo bagus banget. . . . . .

    ReplyDelete
  18. Saya yang sudah 20 tahun lebih merasakan hal yang sama. Dijakarta sebenarnya hanya terpaksa, ya itu mencari duit. Seandainya dikampung ada kerjaan, pastinya saya pilih didesa saja.
    Ya, itu semua demi isi perut. Kalau pendapatan masih berkisar lima juta, aduh.. ngos-ngosan deh.
    Semua dijalanin dengan rasa syukur saja, biar hidup tetap nikmat.

    ReplyDelete
  19. Aku dulu di Jakarta tinggalnya di Setia Budi (dekat SMA 3).. Sebulan habis 9 ribu untuk kosan (setelah bagi dua dengan kawan), 1,1 juta untuk makan, 1,1 juta untuk transport, 1 juta lifestye.

    Setelah pulang ke kampung, banyak ditanya kenapa gak kerja di Jakarta aja. Hah, gak tau aja gimana stressnya hidup kota besar -_-



    ReplyDelete
    Replies
    1. iya fan, bukan hanya soal biaya hidup, tekanan hidup juga keras di jakarta.

      mari kembali ke kampung halaman aja

      Delete
  20. Aku belum pernah tinggal di jakarta sih. Cuma pernah mampir beberapa hari. Kalau kulihat biaya makannya 11-12 aja dengan di tempatku banjarmasin. Kalau biaya transport di sini orang malah lebih banyak pakai motor pribadi ketimbang angkutan umum. Heu

    ReplyDelete
  21. Jakarta memang mantap mas, kebetulan ane juga tinggal di Jakarta sudah cukup lama semenjak kelar sekolah (2007) dan sampai skrng punya pasangan dan sepasang anak heee, memang jakarta biaya hidup mahal contoh kasus di bandingkan dengan kampung ane yang murah meriah namun kerjaan susah jadi lari deh ke Jakarta alhmdllh dapat kerja dan hidup sampai skrng, di Jakarta itu apapun duit benerin sanyo duit, lampu mati duit, ac rusak duit, genteng bocor duit kalo di pikirin duit terus ia di jakarta ini kali kampung kan seperti ini nyuruh tentangga atau temen saja cukup :D Perihal perhitungan pendapatan disini ane berbagi dikit dan perkataan gengsi itu ada benarnya loh ia , duit 4jt an untuk keluarga 2 anak bisa loh bertahan hidup di Jakarta asal kan istri bisa masak :D dengan manajemen keuangan yang bagus tentunya . misalnya untuk makan 1,5 serahin istri , untuk anak 2 jt serahin istri , buat kita 1 mondar mandir, 1 untuk keperluan rumah kalo ada sisa di tabung kalo tdk ada ia nyari buat di tabung. berbicara penghasilan dan selanjutnya berkaitan dengan tempat tinggal disini rumah ia kalo pendapatan 4 jt susah dapat rumah minimal 9 jt/bln pendapatan baru bisa beli rumah yang mana 30 % untuk cicil dan sisanya untuk biaya hidup di Jakarta ini. harga rumah di jakarta luar biasa 80 m2 600 an( lokasi cibubur ) kadang2 bandingin nek omah dewe (kampung) duit segini bisa beli tanah luar biasa . intinya di Jakarta kita jangan males gerak saja , apapun kemampuan kita harus dikeluarkan dengan jurus sailormon umpama bisa moto hajar, bisa design hajar,, bisa ngeblog bgni hajarr semua pokoknya hajarrrr. Salam kenal dari ane anak kampung juga sebenarnya yang tingggal di Jakarta .

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mas, kalau udah dijakarta dengan gaji dari pekerjaan tetap cuma cukup aja, maka harus mutar otak gimana caranya menghasilkan lebih. kalau bisa semua hal dikerjai biar dapat duit.

      Delete
  22. waw murah sekali di medan ya.
    Kalo saya lihat datanya untuk di jakarta jika dibanding dengan daerah saya tinggal di asam asam jorong kalsel itu tidak beda mas persis banget. Meski tempat tinggal saya bukan kota tapi harga - harga melambung.

    ReplyDelete
  23. Mamuju juga mahal mas, hehehe.. Ntar deh kapan2 aku posting soal ini.

    ReplyDelete
  24. Wkwkkk... baca komentarnya kok sama aja ya, intinya biaya hidup di Jakarta itu selangit. Buat pribadi aja katakanlah 3 jt itu pas2an ya. Belum lagi kalo ada tanggungan keluarga dan lain2... Waduh, puyeng dah.

    ReplyDelete
  25. Pernah kerja dan kost di Kemang Jakarta sekitar Juni 2007 sampai Februari 2008.
    Saat itu aku belum menguasai tip and trik tinggal di Jakarta, jadi gak betah.
    Gitu ada tawaran kerja dan gaji yang "lebih" di Balikpapan, kami sekeluarga langsung hijrah.

    Cuma gak tahan dengan macet Jakarta.
    Maklum lah biasa hidup di daerah.

    Tapi, aku masih mau kog tinggal di Jakarta...

    ReplyDelete
  26. seumur hidup saya baru 2 kali ke jakarta dengan beda tahun. pertama saat masih kuliah dan kedua saat ikut suami dapat tugas ke jakarta oleh atasannya. semuanya hanya 2 hari semalam. jujur saya pengen ke jakarta lagi tp dengan suami dan anak hanya utk beberapa hari saja. Saya masih penasaran seperti apa jakarta yg sebenarnya.

    ReplyDelete
  27. Tinggal di kota besar seperti jakarta sekaligus pusat pemerintahan memang memiliki beberapa tantangan termasuk dalam hal financial

    ReplyDelete
  28. Selamat datang di kota besar ! Semuanya serba duit mah di Jakarta, hahaha

    ReplyDelete
  29. jujur sebagai warga jakarta aku merasa bahwa harus ada pengembangan sentra ekonomi di luar jakarta, karena dengan kondisi jakarta kaya gini bukan ngga mungkin kebutuhan hidup akan semakin mahal dan nggak terjangkau.

    tapi emang bener, sebenernya kalo hidup ala kadarnya, di jakarta kita masih bisa nabung. Yang bikin kacau itu kalo penghasilan pas pasan tapi masih hedon bahkan cicil ini itu. berat bosss

    ReplyDelete
  30. Sudah 6 tahun di Jakarta dan terus mencoba betah untuk tinggal di Ibukota.

    Kemarin sempat rehat sejenak, kembali ke rumah di Jogja hampir 3 Minggu. Tapi baru sadar, Jogja memang enak untuk merehatkan sejenak pikiran dari pekerjaan. Namun, saya kok kurang bisa kerja di sana yah. Hawanya nyaman buat istirahat dan menikmati hari tua sepertinya. Pengennya balik Jakarta buat kerja.

    Jakarta buatku sudah didesain emang buat perantauan, cari nafkah, sementara kampung halamanan memang buat 'pulang' melepas sejenak pikiran.

    Btw, sudah tidak di Jakarta lagi rupanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduhh kalau saya di jakarta malah ga betah mas, bukan hanya soal biaya hidup, tapi juga tekanan hidup dan pekerjaan.

      Karena instansi saya dimanapun kerja jobdesk dan gaji sama aja, saya lebih milih tinggal di kampung, whehe

      Delete
  31. 95 akhir pernah sekitar 3 bulanan hidup di jakarta, mas.
    ternyata gak kuat. hahaha...

    akhirnya balik jawa lagi.

    ReplyDelete
  32. so far, menurutku biaya hidup di jakarta masih tergolong lebih terjangkau di banding sama palembang :D kamu masih bisa dapat kos 780 ribu, di palembang mana dapat lagi :D

    ReplyDelete
  33. sini maen kontrakan gue 1 ruang depan (1,2mx2.5m) , ruang tengah 2.5x2.5, dapur+km mandi 1.2x2.5 . listrik pulsa token, air bebas. 450rb/bln . makanya gue rela PP 40km Cipondoh-Setiabudi tiap hari (tpi pke motor. haha) . gaji d atas umr UTUH. karna utk biaya hidup (makan,transport,tmpt tgl) kebayar dari hasil Ngojol . wkwkwkwk.

    ReplyDelete
  34. Kota ini cukup dikunjungi maksimal 7 hari ^_^

    ReplyDelete
  35. Hidup di Medan mirip2 di Jawa Timur yaa... murah meriaah 😁😁😁

    ReplyDelete
  36. Bagi pegawai beacukai 600rb mah murah meriah ya mas..harganya sama kaya disemarang pas waktu awal nikah ngekos 6 bulan saja.. Setelah itu ngontrak..

    ReplyDelete
  37. Jakarta emang mahal. Belum biaya hidup dan lain-lain. Belum lagi biaya anak-anak sekolah SD dan SMP yang biaya masuknya aja bisa buat beli sepeda motor. Belum lagi biaya SPP nya. Belum lagi biaya transport si ayah yang kerja yang jauh dan harus ngetoll JORR pp. Bensin dll. Kalau dipikir mumet ya mas. Hehehe..Tapi dibawa enjoy aja. Senoga selalu ada rejekinya.

    ReplyDelete
  38. Kalo dibanding Jakarta, biaya hidup di Papua masih lebih mahal, hehehe :D
    Orang Jakarta aja yang dateng ke Papua selalu shock.
    Ikan mujair bakar aja satu porsi (1 potong ikan utuh) harganya 100rb. Hahah :))

    ReplyDelete
  39. Salam kenal kakak. Emang bener sih banyak yang bilang kalo hidup di Jakarta itu biayanya mahal. Kalo di Medan kayaknya biaya hidup hampir sama kayak di Semarang. Kalo di kotaku (Kendal) biaya hidup lebih murah memang karena masih termasuk pelosok.

    ReplyDelete
  40. Betul, Mas. Saya hanya mengunjungi Jakarta kalau benar-benar perlu saja, seperti silaturahim ke saudara atau menghadiri acara tertentu. Tidak pernah ada rencana untuk mencari pekerjaan atau menggantungkan hidup di sana. Memang mahal dan kurang nyaman..

    ReplyDelete
  41. hohohoo.. ini bener banget. alasan yg sama yg terjadi padaku :)

    ReplyDelete
  42. yaa gitu emang. Namanya juga ibu kota plus pusat bisnisnya Indonesia. Kalau saya sih mendingan hidupnya di desa2 gitu yang menawarkan ketenangan dan perasaan adem. Kalau bisnis ya bagusnya naruh di tmpt2 ramai, sprt ibukota

    ReplyDelete

Komentar spam tidak akan di-approve.

Copyright © 2017 Catatan Finansial PNS Muda by Sabda Awal