Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan, Apakah Anda Juga?

Artikel terkait : Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan, Apakah Anda Juga?

Meskipun saya sudah belajar investasi dalam kurun 4 tahun terakhir dan senantiasa belajar manajemen keuangan, ternyata saya tidak terlepas dari kesalahan finansial.

Poin pentingnya saya menyadari ini di awal, sehingga bisa menjadi bahan evaluasi keuangan saya dimasa mendatang.

Tidak menutup kemungkinan, dimasa depan saya masih melakukan kesalahan. Yang namanya belajar, kalau tidak salah bukan manusia namanya, haha.

Memang sih bahasan ini agak personal. Karena akan membahas kesalahan saya pribadi atau bisa jadi dari 4 list  ini ada juga bagian dari kesalahan finansial anda sendiri?

Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan


Tidak sebatas sharing kesalahan saja, saya akan membuat evaluasinya juga.

Berikut ini ke-4 daftar kesalahan finansial yang saya lakukan.
  1. Membeli asuransi unitlink.
  2. Membeli tab yang harganya 120% dari gaji bulanan.
  3. Punya 5 rekening bank namun tidak dimanfaatkan.
  4. Alokasi penghasilan masih belum jelas.
Mari kita bahas satu per satu.

1. Membeli Asuransi Unitlink

Membeli asuransi unitlink merupakan kesalahan finansial terbesar saya. Saya membayar premi pertama saya bulan Februari 2016. Jika dihitung hingga sekarang sudah berjalan hampir tahun ke 3.

Dahulu, saya punya pola pikir yang jelek tentang asuransi. Maka, sejak awal bekerja tahun 2013 saya tidak pernah mau membeli asuransi meskipun sudah ada tawaran yang masuk.

Pikiran saya picik sekali saat itu. "Buat apa asuransi kalau nanti tidak sakit, malah uang saya hilang begitu saja untuk perusahaan asuransi. Enak sekali mereka."

Kemudian saya diperkenalkan dengan asuransi unitlink yang dihubungkan dengan instrumen investasi oleh teman saya. Saya yang pada saat itu sedang kemaruk investasi pun menerima tawaran tersebut.

Semata-mata karena ada investasinya saja.

Jika tidak, saya pasti tidak akan mengambil asuransi.

Kini saya sadar bahwa asuransi itu penting sebagai perlindungan.

Asuransi ibarat payung yang sudah kita persiapkan saat hari mendung. Ketika hujan turun, tinggal menggunakannya saja. Bayangkan, tanpa payung kita basah kuyub atau beli payung dulu di toko.

Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan


Dengan asuransi, uang simpanan akan tetap aman saat kita jatuh sakit. Tahu sendiri, biaya perawatan rumah sakit itu mahal. Bisa-bisa menguras uang tabungan.

Lha asuransi penting, terus kok asuransi unitlink adalah sebuah kesalahan?

Pembelian asuransi untilink ini sendiri menghasilkan 3 kesalahan sekaligus bagi saya.


Pertama...
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asuransi berfungsi sebagai perlindungan bukan investasi! Jika ingin berinvestasi lebih baik lakukan terpisah dibanyak pilihan instrumen, seperti saham, emas, reksadana dan properti.

Akan lebih bijak jika saya memilih asuransi murni saja. Dengan nilai premi yang sama, Uang Pertagungan (UP) yang dijanjikan jauh berbeda.

UP asuransi murni bisa mencapai miliyaran, sementara UP asuransi unitlink hanya ratusan juta saja (jiwa).

Kedua...
Selang 8 bulan dari pembelian asuransi unilink pertama, saya membeli asuransi unitlink kedua. Saya masih belum paham betul saat itu.

Jika saya mengingat kembali momen itu. Saya sangat menyesal. Ingat rasanya kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.

Meskipun bisa double klaim, tapi buat apa asuransi sampai 2? Bahkan saat ini saya punya 3 asuransi dengan tambahan BPJS.

Saya harus mengeluarkan uang ekstra hanya untuk asuransi. Sebuah keputusan bodoh dimasa lalu!

Asuransi unitlink pertama dengan premi bulanan Rp 750.000.

Asuransi unitlink kedua dengan premi semesteran Rp 2.500.000 atau Rp 417.000/bulan

Atau jika saya perbulankan total Rp 1.170.000!

Wajarnya alokasi asuransi tidak lebih dari 5% dari penghasilan.

Tapi kesalahan ini membuat saya harus mengalokasikan 14% dari gaji saya untuk asuransi 😭.

Ketiga...
Pertumbuhan investasi yang terbentuk dalam asuransi unitlink tidak maksimal.

Saya sudah membuat perhitungan dan plus minus asuransi unitlink pada tulisan saya sebelumnya Apakah Asuransi Unitlink Menguntungkan? Begini Plus Minusnya.

Asuransi unitlink pertama terdiri dari jiwa + kesehatan + reksadana.

Asuransi unitlink kedua terdiri dari jiwa + reksadana.

Saya sudah melakukan perhitungan untuk asuransi kedua, karena lebih simpel.  Saya dapati bahwa nilai investasi dalam 1,5 tahun tumbuh sekitar 10%.

Jika saya lebih bijak, dapat saja dananya saya alokasikan untuk reksadana langsung yang memungkinkan untuk memperoleh profit yang lebih tinggi.

Selain itu, adanya nilai akuisisi yang mengharuskan saya mengikhlaskan sekian persen dari investasi untuk perusahaan asuransi selama 5 tahun.

Evaluasi
Saya akan mempertahankan 1 asuransi saja, yaitu asuransi unitlink pertama yang mengandung produk kesehatan + jiwa + investasi.

Saya akan meneruskan pembayaran kedua asuransi unitlink ini hingga melewati 5 tahun pertama. Selama saya masih mampu membayar atau tidak butuh dana darurat akan tetap saya teruskan. Jika tidak, maka asuransi unitlink kedua akan saya berhentikan.

Saran
 Jika anda ingin membeli asuransi saran saya hanya ada 2 :
  1. Pilih asuransi murni
  2. Premi tidak lebih dari 5% penghasilan

2. Membeli Tab Seharga 120% Dari Gaji

Dulu saya sempat menjadi seorang pengamat gagdet yang selalu update informasi terbaru tentang smartphone dan tab yang dirilis melalui beberapa channel youtube yang saya subscribe.

Berawal dari sanalah, akhirnya saya menginginkan sebuah tab.

Saya jatuh cinta dengan Samsung tab S3 yang dirilis pada tahun 2017 silam. Yang membuat saya jatuh cinta adalah layar Amoled, stylus pen serta segudang fitur yang ditawarkan.

Tak lama setelah dirilis saya pun membeli Samsung tab S3 di harga Rp 9,9 juta.

Walaupun pada akhirnya penggunaan itu tidak terlalu maksimal, karena saya gunakan sebatas multimedia saja. Sebagai pemutar video, aplikasi investasi, mewarnai dan membuat catatan.

Tapi saya sama sekali tidak menyesali tentang tab itu meskipun harganya selangit.

Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan


Wajarnya, membeli gadget itu tidak lebih dari 30% gaji. Atau sebaiknya menabung dulu selama beberapa waktu hingga uangnya cukup.

Tetapi, saya tidak melakukan hal itu. Disinilah letak kesalahannya, saya menggunakan uang tabungan saya hingga hampir habis.

Baiknya, saya wajib tetap memiliki uang di tabungan yang manakala dibutuhkan dalam keadaan mendesak, namun nyatanya tabungan tersebut hampir habis.

Beruntungnya, setelah membeli tab tersebut tidak terjadi hal-hal yang membutuhkan uang darurat.

Namun, saya tetap harus melakukan evaluasi...

Evaluasi
Saat ini gadget bukan lagi bagian dari gaya hidup melainkan sebuah kebutuhan, bukan?

Sangat jarang kita temukan masa pemakaian sebuah gadget diatas 5 tahun. Lalu, anggaplah pemakaiannya berkisar antara 2-5 tahun. Artinya, membeli gadget adalah suatu kebutuhan yang akan terus kita lakukan.

Tidak mungkin kita menggunakan gadget yang sudah ketinggalan zaman, karena pasti berpengaruh dengan kinerjanya, sering ngelag, baterai soak, paling parah jatuh layar pecah hingga tidak berfungsi sama sekali.



Berangkat dari hal ini, saya harus membuat alokasi dana untuk gadget. Nantinya, alokasi ini bukan ditabung melainkan diinvestasikan dalam reksadana dengan harapan nilainya akan tumbuh sehingga saya dapat membeli smartphone diatas ekspektasi.

Saya akan mulai menyisihkan Rp 100.000/bulan untuk ditempatkan pada reksadana.

Jika saya anggap investasi ini tumbuh 10% / tahun, maka dalam kurun 3 tahun nilai reksadana saya menjadi Rp 4.269.200.

Bandingkan jika saya hanya menyimpan di rekening saja, maka 3 tahun hanya diangka Rp 3.600.000++.

Selain uang saya bertambah dari investasi, saya tidak perlu mengganggu tabungan saya untuk membeli gadget.

Saran
Membeli gagdet adalah sebuah kepastian di masa mendatang. Akan lebih baik jika dana disiapkan sejak awal. Dicicil sedikit demi sedikit lalu diarahkan ke produk reksadana. Maka nilai uang akan bertambah.

3. Punya 5 Rekening Bank Namun Tidak Dimanfaatkan Dengan Baik

Beberapa kali pindah kantor memaksa saya harus membuat rekening bank sesuai yang digunakan kantor untuk mengirimkan gaji.

Rekening dapat digunakan untuk memisahkan alokasi dana dari penghasilan kita.

Namun, saya tidak dapat memanfaatkan dengan baik. Alhasil, saya hanya fokus ke 1 rekening bank saja yang mana digunakan menerima transferan gaji.

Padahal, saya dapat menggunakan rekening-rekening tersebut sebagai wadah dari pos-pos pengeluaran seperti dana darurat, tabungan, pengeluaran rutin serta simpanan yang akan digunakan dalam jangka pendek.

Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan


Kesalahan lainnya adalah saya memiliki ke 5 kartu debitnya. Menggunakan produk bank mewajibkan saya untuk memberikan fee kepada mereka. Seperti, biaya administrasi buku tabungan dan biaya pemakaian kartu debit.

Yah, jika saya hitung dengan dipukul rata maka :
  1. Biaya buku tabungan : Rp 10.000
  2. Biaya kartu debit : Rp 3.000
Dengan 5 rekening bank, artinya setiap bulan saya harus melepaskan uang sebesar Rp 65.000. Jika disetahunkan mencapai Rp 780.000!!! Jumlah yang cukup lumayan bukan?

Evaluasi
Saya harus memastikan bahwa setiap rekening bank dapat dimanfaatkan. Dimulai dengan mengecek jumlah saldonya terlebih dahulu.

Iya, mengecek saldo. Karena di setiap rekening terdapat saldo yang saya lupa berapa jumlahnya.

Setelah itu, barulah menggunakan setiap rekening tersebut untuk pos-pos tertentu.



Secara garis besar saya akan membaginya menjadi 4 pos yaitu
  1. biaya hidup
  2. dana darurat
  3. tabungan
  4. lain-lain (sedekah, buku, travelling)
Dengan begini saya sudah menggunakan 4 rekening bank. Sementara 1 sisanya telah digunakan oleh orangtua saya untuk mengambil uang saat saya mengirim uang.

Tambahan, jika saya tidak membutuhkannya, maka saya akan menutup rekening tersebut.

4. Alokasi Penghasilan Masih Belum Jelas

Kesalahan finansial berikutnya adalah alokasi penghasilan masih belum jelas.

Setiap orang pasti memiliki pengeluaran. Meskipun tidak dicatat, namun ia tahu akan ada pengeluaran untuk biaya hidup, pulsa, tabungan, investasi, asuransi dan lain-lain.

Namun, kesalahannya adalah mereka tidak tahu seberapa besar alokasi pasti pada setiap pos tersebut.

Itulah yang terjadi kepada saya.

Saya tidak tahu berapa persen alokasi untuk biaya hidup, asuransi, tabungan, investasi dan seterusnya. Ketidakjelasan ini cukup berbahaya untuk kesehatan finansial.

Inilah 4 Kesalahan Finansial Yang Saya Lakukan


Misal, bulan ini beli pulsa Rp 200.000, bulan depan Rp 500.000. Tidak ada kepastian jumlah.

Misal, saya rutin jajan Rp 20.000/hari. Selama 1 bulan sudah menguras Rp 600.000 penghasilan. Ini ialah nilai yang cukup besar.

Saya harus dapat membuat limit alokasi setiap pos. Seperti contoh diatas, saya dapat membuat alokasi jajan tidak boleh lebih dari 2% dari gaji misalnya.

Dengan alokasi yang jelas, saya dapat menghindari pengeluaran yang tidak penting dan prilaku boros.

Evaluasi
Barulah saat artikel ini terbit (Oktober 2018) saya melakukan perubahan besar dengan finansial saya.

Sejujurnya, teori ini sudah saya dapatkan sejak 2 tahun yang lalu yaitu membuat alokasi penghasilan yang jelas,- sejelas-jelasnya. Dalam kata lain,- membedakan setiap pos (akun) untuk tujuan tertentu.

Seperti biaya hidup, tabungan, investasi, asuransi, sedekah, travelling hingga hang out bersama teman atau keluarga.

Akhirnya saya membuat perhitungan dengan rincian sebagai berikut :
  • Biaya hidup : 43,9%
  • Dana darurat : 6%
  • Tabungan : 6%
  • Investasi : 36%
  • Gadget : 1,2%
  • Lain-lain (sedekah, buku, travelling): 6,9%
Biaya hidup
Sebenarnya biaya hidup hanya untuk pengeluaran rutin yang dilakukan untuk hidup. Seperti pangan, tempat tinggal, tagihan listrik, pulsa dan seterusnya.

Dalam hal penghasilan lebih dari cukup, disarankan alokasi wajar untuk biaya hidup tidak lebih dari 50% penghasilan.

Namun, dalam perhitungan ini saya memasukkan asuransi dan mengirimi orangtua ke dalam pos biaya hidup. Alasannya, karena rutin saya lakukan setiap bulan. 

Terlebih lagi saat ini saya tinggal dengan kakak yang membuat biaya hidup saya lebih hemat. Yahh... hingga saatnya nanti saya menikah, maka pasti akan merubah besaran biaya hidup tersebut.

Dana darurat
Dana darurat adalah dana jaga-jaga ketika saya tidak bekerja lagi. Di PHK misalnya, meskipun kemungkinannya amat kecil karena saya PNS di Bea Cukai.

Besaran dana darurat minimal 3 kali biaya hidup. 

Seandainya saya di PHK, bagaimana caranya saya dapat hidup selama 3 bulan kedepan tanpa bekerja (gaji). Yupp, menyiapkan dana darurat adalah sebuah kewajiban.

Adapun target saya ialah mampu membuat dana darurat sebesar 6 kali biaya hidup.

6% dari gaji akan saya sisihkan untuk dana darurat. Hingga Oktober ini, besaran dana darurat saya masih 1 kali biaya hidup.

Saran
Jika anda berpeluang besar untuk diberhentikan perusahaan, maka sebaiknya persiapan dana darurat harus diutamakan.

Pintar-pintar melakukannya. Bisa dengan mengalihkan pos investasi dan tabungan ke dana darurat atau membatasi pengeluaran (lebih hemat) sehingga kelebihannya bisa diarahkan ke dana darurat.

Tabungan
Tabungan ini saya persiapkan untuk mendanai sesuatu dalam jangka pendek atau menggunakannya untuk kebutuhan mendesak.

Target tabungan ini saya patok sebesar 100% dari penghasilan.

Jika target tersebut sudah terpenuhi maka saya akan mengalihkan alokasi tabungan ke investasi.

Investasi
Setiap bulan saya rutin berinvestasi.

Saya ingin menyampaikan bahwa investasi ini jangan dipaksakan selama penghasilan anda belum cukup. Investasi hanya dilakukan saat anda memiliki uang lebih. Yahh, bisa dibilang jika biaya hidup sudah terpenuhi, baru boleh melakukan investasi.

Jangan sampai karena ngebet investasi, ehh untuk hidup saja masih senin-kamis.


Hingga akhir tahun 2019 nanti, saya akan fokus investasi di P2P Lending syariah.

Gadget
Alokasi gadget sudah saya sampaikan pada kesalahan kedua saya "membeli tab seharga 120% dari gaji".

Lain-lain
Alokasi lain-lain ini terdiri dari buku, sedekah, dan tabungan untuk travelling.

Penutup

Dari ke 4 kesalahan finansial ini ada 4 hal penting yang dapat dijadikan masukkan.

Asuransi
Pilihlah asuransi yang sesuai dengan kebutuhan. Ambil 1 produk yang mencukupi kebutuhan anda. Jangan seperti saya sampai punya 3 asuransi.

Wajarnya alokasi asurani 5% dari gaji. Jangan lebih ya.

Terkait memilih asuransi murni atau unilink, saya lebih menyarankan asuransi murni saja. Karena fungsi asuransi itu perlindungan bukan investasi. Anda dapat melakukan investasi sendiri dibanyak pilihan instrumen investasi seperti saham, reksadana, atau sekedar menjaga nilai uang dari gerusan inflasi melalui emas, bahkan memperoleh passive income melalui p2p lending.

Namun, jika anda tidak ingin ambil pusing soal investasi *mau terima bersih saja. Maka, asuransi unitlink dapat dijadikan pilihan sebagai proteksi sekaligus investasi dengan konsekuensi besarnya potongan di 5 tahun pertama.

Gadget
Seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, gadget bukan sebuah barang mewah lagi melainkan kebutuhan mutlak untuk berinteraksi dengan orang lain.

Maka, kebutuhan gagdet tidak dapat dihindari. Kita akan membeli yang baru secara priodik saat gadget yang dimiliki menurun performanya.

Oleh sebab itu, alokasi dana pembelian gadget dapat dicicil sejak dini untuk mengurangi beban pembelian di masa depan.

Rekening Bank
Manfaatkan setiap rekening bank yang dimiliki untuk membagi setiap akun/pos keuangan agar tidak terganggu akibat tercampurnya dana.

Alokasi Dana Jelas
Mulailah membuat alokasi dana yang jelas agar anda sehat secara finansial.

Buat nilai batasan setiap pos/akun keuangan anda seperti tabungan, asuransi, biaya hidup, dana darurat, investasi, dan lain-lain.

Hal ini membantu memantau kemana saja uang anda dihabiskan serta menghindari prilaku boros.

***

Demikian sharing tentang kesalahan finansial yang pernah saya lakukan. Bagaimana dengan anda? Silahkan berbagi lewat kolom komentar, mana tahu saya dan pembaca lain dapat ikut membantu mengevaluasi kesalahan finansial kita bersama.

Source image : Pexels.com

    Artikel Catatan Finansial PNS Muda Lainnya :

    Berlangganan artikel via email :

    No Spam and Powered by FeedBurner

    54 comments:

    1. Waah asyik sekali baca ulasannya mas. Saya juga abis tutup satu asuransi unit link. Karena ada 2. Padahal satu saja sebenarnya cukup.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Selamat mbak, artinya mbak ga telat bertindak.

        Delete
    2. Rekening bank banyak amat :v. Btw perlu dikit aku tambahin sebenarnya admin bank yang gede2 gitu bisa diminimalisir, dgn cara dari awal kita sudah research jenis tabungan, bank penerbit, ketersediaan e channel.
      saya sendiri punya 7 akun bank untuk berbagai macam kebutuhan & hanya menghabiskan biaya admin 15k/bulan, hemat kan :D

      Yang alokasi itu sudah bener tapi apalah daya alokasi kalau hanya alokasi tidak ada pencatatan arus kas, maybe bang sabda bisa download aplikasi pencatat keuangan seperi money lover,spendee,wallet untuk mengukur pemasukkan, pengeluaran, hutang, dsb sehingga bisa mengurangi kalap. Abang juga bisa melakukan evaluasi keuangan dr catatan tersebut.

      Semoga membantu

      ReplyDelete
      Replies
      1. rekening bank nya dia banyak dan itu karena keharusan untuk memilih bank nya karena terkait gaji transfer dari kantor. otomatis dia ga bisa milih bank nya, makanya kena biaya adminnya nggak bs milih2 kayak lu tong. kan udah dijelasin sama dia. ckckckckckc

        Delete
      2. udah pernah download aplikasi pencatat keuangan tapi ga terlalu efektif karena saban hari harus mencatat terus. Sekarang saya ubah pakai metode limit saja

        Delete
    3. Hiks, saya pernah melakukan poin 1,2 dan 4.

      Tapi yang tab, cuman sekitar 80% dari gaji sih, cuman tetep saja ngenes kalau diingat, lah 80% buat tab, terus buat lainnya? hahaha.

      Kalau mengenai rekening, sejak dulu sudah saya pilah, masing-masing punya fungsi yang saya selalu jaga dengan baik untuk gak dilanggar, bahkan ada yang ATMnya saya simpan di rumah biar aman gak kepakai :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kalau tab nya menunjang pekerjaan ada kegiatan ga apa2 sih mbak, asal jangan mubazir aja setelah dibeli, hihi

        Delete
    4. Wowww Mas. Gapap tuh disebutkan membeli asuransi unitlinknya? Huehehehehe.
      Btw kalo mau cut asuransi unitlinknya sih mending cut sekarang aja. Karena semakin lama (menunggu 5 tahun) duit yang dibayarkan untuk premi juga lebih besar. Sayang kalo saya mah Mas. Duit bayar premi untuk 5 tahun itu bisa saya belikan saham atau reksadana. :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. sata udah konsultasi mas sama teman saya bidang asset management. KAtanya sih ga usah di cut, secara udah jalan di 3 tahun. Akuisisinya udah kecil, jadi dilanjut aja katanya sih gitu. Jadi saya tetap lanjut

        Delete
    5. Mantap mas.. Jadi semakin tercerahkan sama finansial kehidupan..

      Betul tu, banyak buku tabungan akan banyak potongan tiap bulan. Dan rata rata pertabungan bisa 15000/bulan. Klo punya 5 dan selama 1 tahun sudah mendekati 1 juta. Blm lagi saldo tertahan atau potongan maksimal jika saldo dibawah saldo minimum.

      ReplyDelete
      Replies
      1. iya betul sekali mas, padahal duit segitu bisa buat beli saham atau reksadana ya

        Delete
    6. Beneran saya juga udah nutup ansuransi jiwa malahan,kegerus inflasi duitnya ga seberaa, thanks atas pencerahannya :D

      ReplyDelete
    7. Jujur, saya bukan tipikal orang yang membuat alokasi dana atau rencana pengeluaran, Mas. Tapi artikel ini, seperti biasa, selalu menginspirasi. Kata2nya juga mudah dicerna.. terima kasih, Mas Sabda.. :)

      ReplyDelete
    8. aih, jadi evaluasi jg buat saya. terimakasih sharingnya ya. bernas!

      ReplyDelete
    9. manfaat banget idenya itu loh. saya juga sama rekening nganggur punya karena diperlukan untuk gajih selanjutnya terbengkalai.

      Betul juga mas gedget itu pasti beli lagi dan bener juga harus disipakan karena pasti beli lagi. makasih mas jadi saran bagi saya itu.

      ReplyDelete
      Replies
      1. iya mas, saya juga kepikiran kalau soal gadget karena kita pasti akan beli terus terusan. jadi ga ada salahnya disiapkan sejak awal

        Delete
    10. Soal gagded atau tap ini rasanya sangat menarik sekali dibahas. Dan seperti sudah menjadi budaya hampir semua orang. Memiliki gadget yang bukan karena kebutuhan. TApi karena ingin bergaya. coba perhatikan, orang rata-rata punya gadget mewah nan mahal, biasanya hanya sekedar untuk WA dan media sosial lainnya. Kalau hanya sekedar itu kan, tidak perlu yang mahal bukan?

      ReplyDelete
      Replies
      1. kalau sekarang rata2 gadget diperuntukann untuk multimedia mas, pengennya sih kinerja smartphone bagus, ga nglag dan banyak aplikasi yang diinstal. Tentu mereka sekalian beli yang mahal untuk alasan itu, sekaligus bergaya juga sih

        Delete
    11. Makasih pencerahannya. Asuransi unitlink itu kayak apa to contohnya..? Aku ikut asuransi pendidikan bumiputra itu buat anak2.. masuk nggak kayak gitu? Aku buku tabungannya juga lmyan bnyk..anak2ku 2 dah punya..aku megang 2..suami 3 kayaknya.
      *Tapi saldonya dikit2 kok.

      Secara ekonomi, mending diringkes yaa...?

      ReplyDelete
      Replies
      1. asuransi pendidikan beda mbak sama asuransi unilink. Asuransi UL itu mengaitkan asuransi dengan investasi.

        Kalau secara finansial, punya rek banyak sih ga masalah asal tujuannya jelas

        Delete
    12. Sangat bermanfaat banget nih informasinya, saya juga baru buat asuransi unit link dan banyak sekali manfaatnya.

      ReplyDelete
    13. alokasi penghasilan belum jelas, ini bikin pingin menghitung sendiri

      ReplyDelete
    14. Terima kasih sharingnya, Mas Sabda.

      Dari ke-4 kesalahan, Mas Sabda. Saya belum pernah ngalamin. Hanya saja saya punya rencana mengikuti tapi masih pikir-pikir dulu. Pertama sempat tuh pengen punya tablet, tapi selalu ada bayang2 yang seolah mengingatkan sata kalau itu bukan kebutuhan untuk saat ini, tapi keinginan semata. Makannya saya masih stop untuk beli tablet.

      Kedua ada rencana untuk membuat rekening banyak seperti, mas Sabda. Tujuannya untuk memudahkan para pembeli transfer, biasanya kan suka ada tuh yang punya BRI pengenya transfer ke BRI dsb. Kebetulan saya jualan jadi ya gitu..hehe

      Tapi soal tabungan itu lagi-lagi saya stop dulu. Karena masih bisa menggunakan satu rekening. Kalaupun memang si pembeli memaksa dengan atm yang sama dan saya gak punya. Masih ada temen punya atm tersebut. Jadi bisa nitip transfer..hehe

      Begitu juga dengan gadget, saya rasa selagi kebutuhan saya menggunakan gadget masih terpenuhi saya masih akan tetap memakai gadget yang saya miliki. Kalaupun harus membeli yang baru dalam artian lebih canggih. Saya setuju dengan saran yang sudah disebutan di atas tadi.

      Setiap apa yang saya inginkan selalu saya pikir-pikir lagi sih, Mas. Terlebih itu keinginan bukan kebutuhan. Dan saya suka evaluasi soal keuangan setiap bulannya.

      Sebagai anak kost saya punya catatan khusus di buku diary saya. Catatan pengeluaran setiap harinya..hehe

      Jadi tiap hari nulis pengeluaran, baik itu untuk makan, keperluan kost ataupun keperluan mendadak gitu.

      Saya rasa bagi sebagian orang gak penting sih, tapi ini salah satu cara untuk saya evalusi pengeluaran setiap bulannya. Karena selalu ada saja yang dibeli padahal itu keinginan semata :D

      Saya juga suka tidak menganggap uang receh dan uang dua ribuan, Mas. Maksudnya uang receh itu (100, 200, 500, 1k) dan dua ribuan. Gak menganggap itu artinya uang itu saya masukan ke setiap botol (celengan sederhana). Jadi ibarat sudah jadi kewajiban gitu kalau saya punya uang yang disebutan tadi untuk di masukan ke celengen.

      Semacam jadi paksaan sih, tapi karena udah biasa, jadi tetap jalan. Dan selalu membantu disaat saya membutuhkan dana. Ataupun membantu teman-teman saya yang memang kerja di toko atau punya usaha semacam angkringan. Uang recehnya di tukar, karena mereka selalu membutuhakan untuk kembalian..hehe

      Yah jadi panjang deh. Dari kemarin udah baca-baca di sini, dan ini baca artikel terbaru sekalian komen :))

      ReplyDelete
      Replies
      1. makasih sharingnya mass..

        kalau gadget memang disesuaikan dgn kebutuhan, jangan keinginan.

        Kalau untuk pencatatan aur keluar dulu saya sudah menerapkan pencatatan setiap hari, tapi tidak begitu efektif. Jadi saya menggunakan metode limit mas.

        Delete
    15. Wah keren banget ulasanya...
      setiap mampir kesini selalu saja ada hal baru yang menginspirasi...

      1. Asuransi
      asuransi mungkin memang perlu... tapi sejak aku resign aku sudah gak pernah lagi punya asuransi. Sampai sekarngpun aku belum punya asuransi kesehatan.
      mudah2an aja aku gak sakit sebelum buat asuransi kesehatan macam bpjs.

      2. Tab
      awalnya aku emang pengen banget sih beli tab, karena hobiku design, gambar, pokoknya butuh alat yang multitasking selain laptop deh. Hingga pada akhirnya aku ketemu lomba yang hadianya ipad, eh tapi gak menang, nyesel sih tapi ya apa boleh buat... aku tunggu hingga ada lomba yang hadianya ipad lagi... dan aku lah pemangnya.. alhamdulillah sekarang bisa berkarya dengan ipad.

      3. tabungan
      buku tabungan ku banyak juga lho. ada 6 biji. karena aku pikir cuma buat buang2 biaya admin... jadi aku pikir ya pakai 1 rekaning cukup lah..

      4. alokasi dana
      kalo ini sih yang terpenting kita utamakan prioritas kita dulu. aku pengen banget beli laptop tapi aku masih punya laptop... jadi aku nunggu laptopku rusak..

      ReplyDelete
    16. Kalau dipikir - pikir sih yah bener juga, dulu pernah sih beli sesutu itu untuk menunjang kebutuhan atau keinginan lain, contohnya dulu saya beli smartphone buat/rencanya untuk melayani transaksi di web, tapi 5 bulan berjalan tak ada transkasi satupun yang masuk hahah, padahal dari 5 bulan tersebut kalau di investasikan ke barang atau benda yang bisa dijual secara cepat, kan uangnya bisa nambah yah ??
      jadi gimana yah kesimpulannya haha, intinya gitu, uang untuk sesuatu memang ada baiknya di investasikan dulu ke sesuatu yang bergeraknya bisa lebih cepat sehingga keuntungan yang dihasilkannya bisa lebih cepat didapatkan, mungkin sederhananya kita inveskan ke sesuatu yang memang hasilnya lebih cepat diabndingkan yang hasilnya lambat,,, mungkin gitu lah, saya gak bs jelasin pake bahasa ilmiah.. hahah :v

      ReplyDelete
      Replies
      1. hahah, tapi kalau seandainya tadi banyak transaksi kan lain cerita yak,

        Delete
    17. Kalau soal asuransi atau keuangan gitu, jujur Mas saya kurang ngerti. Semua hal keuangan suami yang pegang karena selain itu memang sesuai kompetensinya juga karena dia lebih jago ngitung dan ngatur keuanganya hahaha. Nah, kalau soal Tab yang kata Mas bilang harganya selangit, nggak apa2 Mas. Nikmati aja mumpung lajang hihihi. Soalnya kalau nanti udah berkeluarga, pasti akan mikir dua atau 3 kali buat beli tab malah karena inget ama cicilan dan sekolah anak wkwkwkwk 😂 *curcolnya emak2 😂

      ReplyDelete
      Replies
      1. selamat deh mbak punya suami yang jago finansial.

        Bener mbak, lagi single, beli apa yang diinginkan ga apa2 deh, lagian kita juga butuh kan

        Delete
    18. saya baru paham benar dengan asuransi unitlink setelah baca artikel ini. poin ke4 juga masih jadi masalah nih buat saya hahaha

      ReplyDelete
    19. Kesalahan 1-3, aku ga ngelakuin. Tapi poin ke4, agak sedikit menyimpang :p. Alokasi dana sbnrnya udh aku lakuin dr dulu. Selalu jelas bahkan aku tulis rapi di excel. Hanya sajaaaaaa, terkadang penyakitku itu gampang tergoda mas :p. Itu yg susah banget. Alokasi udh dibikin, tp ttp aja suka sedikit menyimpang krn aku tertarik utk beli sesuatu. Ujug2, ada budget alokasi yg harus dipotong..ini sih yg masih hrs aku benerin :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. saya satu triknya pakai rekening yang dipisah mbak, biar ga gampang ditilap alokasi penting tesb

        Delete
    20. Duh, baca ini aku jadi ikut mengevaluasi diri.
      aku juga menggunakan beberapa buku tabungan. Awalnya, niat untuk misahin duit buat A-z. Tapi zonk, ternyata malah gak ke isi rekening itu. Atau bahkan ke isi, tapi uangnya dipake buat macem-macem lagi. HHahaa

      Mesti mengubah diri ya dari kesalahan-kesalahan finansial kita

      ReplyDelete
      Replies
      1. memang dibutuhkan konsistensi mbak, dan keteguhan hati

        Delete
    21. nggak pake asuransi, sering dapet penawaran, males ajah :)
      sindrom budaya konsumtif jaman sekarang

      ReplyDelete
    22. hhh, benar sekali. pos pengeluaran sangat tidak jelas, terlebih tiba2 suka ada pengeluaran yang diluar perkiraan.

      ReplyDelete
    23. Kalo saya sih mas belum peenah melakukan semua yg diatas, tapi yg parahnya keborosan ini, apa mungkin faktor lajang ya mas ?

      ReplyDelete
    24. kenapa saya baca ini saya salah semua. mulai sekarang saya janji saya akan berubah

      ReplyDelete
    25. Apa yang telah kita lakukan dimasa lalu jangan pernah dianggap sebagai kesalahan, namun jadikan sebagai alat pembelajaran di masa depan

      ReplyDelete
    26. Bagi saya pribadi Alhamdulillah belum pernah terjadi yang diatas mas.
      Mengingat saya bekerja di perusahaan swasta yang statusnya tidak pernah permanen.
      2.5 tahun sudah saya bekerja disini hingga sekarang, dengan gaji kisaran US $ 330 - 450 / Bulan, dana tsb masih selalu teralokasikan dengan baik mas, mengikut program dan kiat dr beberapa saran juga..
      Mumpung masih lajang 22 tahun, masih bisa nabung dan bantu adek sekolah..

      ReplyDelete
    27. halo kak sabda! lama nggak mampir nih hehehehe

      akupun pernah bikin kesalahan terutama yang nomer 3. celakanya bukan soal buku tabungan aja, tapi credit card juga *digetok*
      berbekal pengalaman "duit ilang tapi nggak berasa" akhirnya aku memberanikan diri untuk tutup satu persatu sampe tinggal bersisa dua rekening aja. yang satu untuk uang dari pekerjaan, yang satu lagi uang pribadi aku sendiri (uang jajan, duit dari suami dll). Dana darurat? safety box lah yau! hehehe. bagusnya sih aku lebih hemat, jeleknya aku jadi bawa cash kemana-mana dan beraniin diri buat nanggung biaya transaksi dari client-client aku.

      TAPI HIDUP LEBIH TENANG. DAN LEBIH HEMAT. DAN LEBIH CERIA.
      berasa raja minyak gitu tiap makan/nonton/nongkrong, langsung ngeluarin cash dengan gampang karena debit & credit card bikin boros ros ros ros.

      oh ya satu lagi:
      kebanyakan top up saldo go-pay.
      duitnya abis dipake gofooooodddd muluuuukkkkk~~~ #curhat

      ReplyDelete
      Replies
      1. hahahah,,, wahh nyimpan cash banyak beutt ya mbak. tapi kalau di safety box aman aja sih.

        Jangan keseringan isis deposit mbak, nanti ditanya sama suami mbaknya masak atau ga kalau order gojek terus

        Delete
    28. Siiiip analisa yang tajam mendalam.

      ReplyDelete
    29. Saya juga gitu Kak Sabda, pindah kerja yah jadinya banyak punya akun bank. 😂.

      Tapi setelah dipikir-pikir, akhirnya saya putuskan untuk punya 2 akun bank saja. Biar lebih memudahkan tabungan dan nggak bingung.

      ReplyDelete
    30. Analisa yg bagus. Semoga bisa jadi pembelajaran buat saya kedepannya

      ReplyDelete
    31. yg pada komen pertanyaan ngapain sih, orang ga dijawab jg sama yg punya. useless

      ReplyDelete
    32. Saya baru tahu kalau alokasi premi asuransi itu nggak lebih dari 5% penghasilan. Saya dulu malah diajarinya asuransi itu idealnya 30% income.

      Soal unitlink, saya sepakat sama dirimu sih bang. Memasukkan unsur investasi di dalam asuransi sama seperti berharap smartphone berkamera DSLR.

      Fungsi terbatas dengan harga lebih mahal.

      Mending dipisah.

      ReplyDelete
      Replies
      1. iya betul, alokasi asruansi 5%, yang 30% itu untuk investasi mas. Saya juga belajar dari buku yang saya baca Make It Happen

        asuransi UL, udah lupain aja deh, haha

        Delete
    33. Hancur bngt sih mas Hidupnya hahaa.. aku bacanya mumet loh, aku mo nanya tp jgn tersinggung ya? Masnya udh nikah blom? Klo blom nikah mas kudu cari istri sehemat saya agar jelas pengeluaranya kemana.. kemana aja jelas. Sebelum menikah saya nabung dr pemberian orangtua, setelah menikah saya menabung dr pemberian suami, mas boleh baca artikel saya berjudul

      "ternyata mudah menabung 20rb sehari" cari di kolom search, semoga terinspirasi

      ReplyDelete
    34. Iya saya juga. Sepertinya saya pernah terjebak dalam kesemua point di atas :(

      ReplyDelete

    Komentar spam tidak akan di-approve.

    Copyright © 2017 Catatan Finansial PNS Muda by Sabda Awal